Gadis Mukalla Yang Membuatku Insomnia

”Gadis Mukalla Yang Membuatku Insomnia”

Sebuah Catatan Sang Penjelajah
Terhitung sudah 1082 hari keberadaanku di Yaman, meski demikian kehadiranku di Kota Mukalla baru memasuki hari ke 512, sisanya selama 15 purnama telah Aku habiskan di Kota Tarim, Ibu Kota Peradaban Islam, sebagaimana UNESCO menobatkannya 2010 silam.


Selama tinggal di Yaman Aku tak pernah mempunyai kenalan wanita sama sekali, hal ini karena kuatnya benteng adat yang membatasi pergaulan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram di Tanah Ratu Balqis ini. Di sisi lain, ketika seorang gadis usianya sudah baligh (15 tahun), maka mau tidak mau Dia tidak bisa meninggalkan cadarnya kecuali di dalam rumah saja. Bahkan sebagian besar sudah mengenakan cadar sejak awal masuk smp.

Hal ini sangat jauh berbeda dengan adat yang ada di Indonesia yang mana hampir tak ada sekat yang memisahkan antara laki-laki dan perempuan bahkan di lembaga pendidikan baik sekolahan dan kuliahan, kecuali pesantren.

Di Yaman sendiri, meski dibilang kuliah namun Aku tinggal di pesantren yang ketatnya tak beda jauh dengan pesantren-pesantren di Indonesia. Interaksi sehari-hari hanya dengan kaum adam, kesempatan untuk berinteraksi dengan kaum hawa sangat susah sekali, paling hanya dengan dokter, perawat, dan receptionist saja, sisanya nihil dan jangan pernah berharap, kecuali para pengemis bercadar yang katanya berasal dari Somalia.

Di jalan-jalan, di bus, di mall, di counter, di pasar dan di mana saja, semua wanita Yaman bercadar. Teman-teman menyebutnya “Gagak Tak Bersayap”, lantaran pakaian dan cadar hitam mereka. Hal ini tak lain juga karena Mukalla adalah kota dengan ribuan gagak hitam. Di setiap sudutnya Kau akan melihat dan mendengar suara gagak.

Jika semua wanita Yaman bercadar dan tak ada yang berkomunikasi dengan lawan jenisnya, lantas bagaimana diriku bisa mengenal Gadis Mukalla yang membuatku insomnia itu? Baiklah, berikut kisahnya ku ceritakan padamu:

Hal itu bermula beberapa waktu lalu, tiba-tiba tanpa Aku kehendaki Dia hadir dalam kehidupanku. Namanya Fareecha, usianya masih sepantaran denganku. Ia adalah putri pertama Ammu Ragab (Ammu : Paman). Ia punya adik perempuan yang tak jauh dari usianya, Kameela namanya. Ia juga punya adik laki-laki usia 10 tahun, Mushtofa namanya.

Rumah mereka berlokasi di Fuwah – Masakin, tak jauh dari Kompleks Asrama Univ. Al-Ahgaff Mukalla, sedangkan dari asrama yang kutinggali butuh 15 menit untuk sampai ke rumahnya jika menggunakan taxi. Mushtofa adiknya suka bermain di halaman asrama yang dihuni Mahasiswa Indonesia, dari situlah Aku mulai mengenal Fareecha, gadis Mukalla bercadar yang perlahan menawan hatiku.

Itu bermula saat Fareecha menitipkan suratnya melalui Mushtofa. Di akhir suratnya ia menuliskan “Dari Bidadari yang terbelenggu”, tak lupa ia menyertakan nomer hpnya. Awalnya Aku masih ragu akan hal ini, sebab hubungan antar lawan jenis meski hanya melalui hp dianggap merupakan aib besar dalam adat Yaman.

Awalnya ia banyak berkirim pesan tentang tempat-tempat penting di Yaman yang sangat bersejarah seperti Makam Nabi Handzolah, Makam Ka’ab Bin Zuhair yang merupakan sahabat Nabi penggubah Syair Banat Su’ad, Kota Syibam, Big Ben Aden yang merupakan replika Big Ben London dan masih banyak lainnya yang ia ceritakan satu persatu di pesannya. Hingga akhirnya ia mulai mengirim pesan mengenai kepribadiannnya.

Perlahan Aku mulai menaruh simpati pada Fareecha. Pasalnya, sudah kesekian kalinya lelaki melamarnya namun ayahnya masih saja menolak dan menolak lantaran mahar yang dipatoknya terlalu tinggi. Padahal, Fareecha seperti dalam pesan-pesan yang ia kirimkan tak pernah mempermasalahkan mahar, terlebih dia tak pernah menganggap dirinya sebagai wanita yang special sehingga harus ditinggikan maharnya.

Darinya Aku banyak tahu bagaimana terkekangnya seorang wanita Arab di balik cadar dan cengkraman kuat adat yang menekan kebebasannya. Beberapa kali Fareecha mencoba membuka pembicaraan dengan Babanya (Baba : panggilan Ayah di Arab). Sayang, jangankan berkenan mendengar penjelasannya, malah tamparan mentah tek elak mendarat di wajahnya.

Ammu Ragab termasuk lelaki yang berwatak keras dan berpegang teguh pada adat sukunya, halnya kebanyakan Suku Badui di Yaman. Ia hanya ingin anak perempuannya bahagia dengan menikahkannya dengan lelaki yang berkecukupan di matanya, sayang niat baiknya itu malah kian menyiksa batin putri pertamanya itu.

Namun setidaknya keresahan-keresahan yang tiada henti menimpa Fareecha selama sekarang mulai berkurang lantaran ada tempat baginya untuk mengungkapkan segala keluh-kesahnya. Aku kian simpati dan iba menatap kenyataan pahit yang ia alami.

Suatu ketika Aku benar-benar insomnia dibuatnya, hamper semalam suntuk Aku tak bisa tidur lantaran memikirkan setiap problem yang ia ceritakan sampai habis. Sungguh malam itu Aku benar-benar susah untuk tidur memikirkan gadis cantik titisan Ratu Balqis itu.

Sebentar, bukankah Dia wanita bercadar? Lantas dari mana Aku mengetahui paras cantiknya?
Suatu ketika ia mengajak ketemuan dengan Mahasiswa Indonesia yang baru ia kenal beberapa waktu lalu melalui sms-sms itu. Ia mengajaknya bertemu di Kanal Khour – Mukalla, sebuah kanal buatan sepanjang 1 km yang membelah jantung utama Kota Mukalla. Dan, Aku rasa tak perlu Aku perjelas siapa pemuda yang temui di tepi Kanal Khour tersebut.

Di tepian kanal terdapat jalan setapak, taman dan kursi-kursi panjang di banyak titik. Warga Mukalla biasa menghabiskan senja dan akhir pekan di kanal yang menawan ini. Kebanyakan yang berkunjung adalah suami-istri, tak ada pasangan muda yang berpacaran di sini, itu aib besar bagi mereka dan dianggap perbuatan tercela.

Namun Fareecha tetap memaksa pemuda itu dan meyakinkannya bahwa pertemuan itu tak kan pernah dicurigai oleh siapapun yang melihatnya, orang-orang hanya akan mengira bahwa laki-laki dan perempuan yang berdua adalah pasutri.

Pertemuan itu akhirnya benar-benar terjadi. Setelah menumpahkan segala keluh-kesahnya, gadis titisan Ratu Balqis itu mala menyingkap cadarnya lantas melepasnya. Aduhai putih meronanya wajah gadis muda di tatapan mahasiswa Indonesia itu. Tak salah apa yang didengarnya selama ini tentang mitos kecantikan Ratu Balqis yang kini menjelma di hadapannya dalam wajah menawan seorang gadis. Sejenak pemuda itu menikmati kecantikan alami gadis arab dengan kulit putih kemerah-merahan, hitung mancung dan mata hitam kelam yang menatapnya lantas ia beristighfar.

***
Sayangnya setelah pertemuan itu mereka tak lagi berkomunikasi, bahkan Ia mendengar bahwa Fareecha telah berubah 180̊. Badannya kian mengurus, cekungan di pelupuk matanya kian melebar. Goresan kecantikan itu kian lama memudar. Lantas, apa yang sebenarnya yang terjadi pada Fareecha?
***

Temukan jawabannya dalam “Langit Cinta Di Negeri Balqis”, sebuah novel karya Adly Al-Fadly Usmuni. Sebuah novel romansa, sejarah, travelling, dan perjuangan belajar di tanah rantau. Yah, dari novel itulah Aku mengenal Fareecha, salah satu tokoh utama yang diposisikan oleh penulis dalam konflik adat yang mengekangnya. Di sisi lain, penulis membumbuhi novelnya dengan sejarah Islam di Yaman serta travelling ke lokas-lokasi penting parawisata. Setidaknya rasa ingin tahu tentang adat perempuan Yaman serta sejarah dan tempat-tempat penting itu sudah terbayarkan. Hampir semalam suntuk buku itu membuatku tak bisa tidur dan tentunya Aku juga membaca pesan-pesan yang Fareecha kirimkan kepada pemuda Indonesia dalam novel tersebut. 

Load disqus comments

0 komentar